Pertemuan Heraklius dengan Abu Sufyan

Ketika Rasulullah mengirim surat kepada Heraklius, saat itu bertepatan juga ketika Abu Sufyan dan para pedagang dari Quraisy sedang berdagang di Syam. Akhirnya, Heraklius pun menemui Abu Sufyan untuk menggali informasi tentang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari pertemuan antara Heraclius dan Abu Sufyan ini, Heraclius mengetahui tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan meyakini bahwa dia adalah Ahmad, utusan Allah yang telah diberitahukan oleh Nabi Isa ‘alaihis salam.

Kisah pertemuan heraklius dengan Abu Sufyan tersebut diabadikan dalam sebuah hadis dalam Shahih Bukhari. Hadis tersebut merupakan hadis yang cukup panjang dan akan kami tulis dalam beberapa sub bagian agar pembaca lebih mudah untuk membacanya. Berikut ini kisah pertemuan Heraklius dengan Abu sufyan yang terdapat dalam Shahih Bukhari.

Memanggil Abu Sufyan oleh Heraclius

Ketika Heraklius menerima surat dari Rasulullah, ia mengetahui bahwa ada rombongan dari Quraisy yang sedang berdagang di Syam. Ia pun mengirim utusan untuk menggali informasi tentang siapa sebenarnya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Heraclius mengirim kepadanya sekelompok Quraisy, yang merupakan pedagang di Levant pada periode di mana Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, mendekati Abu Sufyan dan orang-orang kafir Quraisy, dan mereka datang kepadanya dan mereka bersama Ilya, jadi dia mengundang mereka ke dewannya, dan di sekelilingnya ada orang-orang besar Romawi.

“Bahwa Heraklius mengirim utusan kepadanya (Abu Sufyan) yang sedang bersama rombongan dagang Quraisy di Syam. Hal ini terjadi pada masa gencatan senjata antara Rasulullah semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian dengan Abu Sufyan dan kaum kafir Quraisy.

Mereka kemudian datang ke Heraclius di Iliya’ (Yerusalem). Heraclius mengundang mereka ke pertemuannya, dikelilingi oleh para pejabat Romawi.”

Kemudian dia memanggil mereka dan memanggil penerjemahnya. Beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian yang paling dekat silsilahnya dengan orang yang mengaku nabi ini?” Maka Abu Sufyan berkata, “Saya adalah orang yang paling dekat nasabnya.” Beliau bersabda, “Dekatkanlah dia kepadaku dan dekatkanlah teman-temannya, maka letakkanlah mereka di belakangnya.” Kemudian dia berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada mereka, ‘Aku menanyakan hal ini tentang orang ini. Jika dia berbohong padaku, maka mereka berbohong padanya.’

“Dia memanggil mereka bersama penerjemahnya, dan bertanya, ‘Siapakah di antara kalian yang paling dekat silsilahnya dengan orang yang mengaku sebagai Nabi?’

Abu Sufyan menjawab, ‘Akulah yang paling dekat silsilahnya.’

Heraklius berkata, “Dekatkan dia kepadaku, dan dekatkan juga teman-temannya, jadikan mereka berada di belakangnya.”

Kemudian Heraclius berkata kepada penerjemahnya, “Katakan pada mereka, aku akan menanyakan orang ini tentang pria itu. Jika dia berbohong padaku, maka kamu harus berbohong padanya.”

(Abu Sufyan berkata), “Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu dituduh berdusta oleh teman-temanku, niscaya aku akan berbohong tentangnya.”

Baca juga: Pemerintahan dan Kekuasaan sebelum Islam

Pertanyaan tentang silsilah dan pengikut Nabi

Setelah bertemu dengan kelompok dagang Quraisy dan bertemu dengan Abu Sufyan yang merupakan orang yang paling dekat dengan garis keturunan Nabi, Heraclius mulai menggali informasi tentang Nabi. Heraclius memulai dengan mengajukan pertanyaan tentang silsilah dan pengikut Nabi.

Lalu hal pertama yang dia tanyakan padaku tentang dia adalah dia berkata, “Bagaimana silsilahnya di antara kamu?” Saya berkata, “Dia ada di antara kita yang mempunyai silsilah.” Beliau bersabda, “Apakah ada diantara kalian yang pernah mengatakan hal ini sebelum dia?” Saya berkata, “Tidak.” Dia berkata, “Apakah ada nenek moyangnya yang berasal dari seorang raja?” Saya berkata, “Tidak.” Beliau bersabda, “Apakah yang diikuti oleh orang-orang yang mulia, ataukah yang diikuti oleh orang-orang yang lemah?” Saya berkata, “Sebaliknya, mereka yang lemah.” Beliau bertanya, “Apakah bertambah atau berkurang?” Saya berkata, “Sebaliknya, jumlahnya bertambah.”

Selanjutnya, pertanyaan pertama yang ditanyakannya kepadaku tentang dirinya (Rasulullah) adalah, “Apa silsilahnya di antara kamu?”

Aku menjawab, “Dia adalah orang yang memiliki keturunan terhormat di antara kami.”

Heraklius bertanya lagi, “Apakah ada yang mengatakan perkataan ini (mengaku sebagai rasul) di antara kalian sebelumnya?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Dia bertanya, “Apakah ada nenek moyangnya yang pernah menjadi raja?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Dia bertanya lagi, “Apakah mereka yang mengikutinya adalah bangsawan atau orang lemah?”

Aku menjawab, “Yang lemahlah yang mengikutinya.”

Dia bertanya, “Apakah jumlahnya bertambah atau berkurang?”

Saya jawab, “Jumlahnya bertambah.”

Pertanyaan tentang akhlak dan peperangan

Setelah menanyakan tentang silsilah dan siapa saja pengikut Nabi, Heraclius terus menggali informasi lain dari Abu Sufyan tentang sifat Nabi dan peperangan yang terjadi antara Nabi dan kaum Quraisy.

Beliau bertanya: Apakah ada di antara mereka yang murtad karena ketidakpuasan terhadap agamanya setelah ia masuk ke dalamnya? Aku berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah kamu menuduhnya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dia katakan? Aku berkata: Tidak. Dia berkata: Apakah dia berkhianat? Aku berkata: Tidak. Dan kami bersamanya untuk jangka waktu tertentu yang kami tidak tahu apa yang akan dia lakukan. Beliau bersabda: Dan aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun yang mencakup apa pun selain kata ini. Dia berkata: Jadi, apakah kamu melawannya? Saya berkata: Ya. Dia berkata: Lalu bagaimana perjuanganmu melawannya? Aku berkata: Perang antara kita dan dia adalah sebuah perdebatan: dia akan menyakiti kita dan kita akan menyakitinya.

Heraklius bertanya, “Apakah ada di antara mereka yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya?”

Aku menjawab, “Tidak ada.”

Dia bertanya, “Apakah Anda pernah menuduhnya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dia katakan sekarang?”

Aku menjawab, “Tidak pernah.”

Ia bertanya, “Apakah dia pernah berkhianat?”

Aku menjawab, “Tidak, tapi saat ini kami berada dalam masa damai dengannya, dan kami tidak tahu apa yang akan dia lakukan saat itu.” (Abu Sufyan berkata, “Tidak ada kesempatan bagiku untuk menyisipkan kata-kata buruk kecuali pada kalimat ini”).

Heraklius bertanya lagi, “Apakah kalian pernah memeranginya?”

Aku menjawab, “Ya.”

Dia bertanya, “Apa akibat perangmu dengannya?”

Aku menjawab, “Peperangan antara kami dan dia silih berganti; terkadang dia mengalahkan kami, dan terkadang kami mengalahkannya.”

Apa yang diajarkan sang Nabi?

Selanjutnya, Heraklius menggali informasi lebih lanjut dengan menanyakan apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dia berkata, “Apa yang dia perintahkan kepadamu?” Aku berkata, “Sembahlah Allah saja, dan jangan mempersekutukan Dia dengan apa pun, dan tinggalkan apa yang nenek moyangmu katakan.” Dia memerintahkan kita untuk berdoa, membayar zakat, jujur, menjaga kesucian, dan berhubungan.

Heraclius bertanya, “Apa yang dia perintahkan padamu?”

Aku menjawab, “Dia berkata, ‘Sembahlah Allah saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan apa pun, dan tinggalkan apa yang nenek moyangmu katakan.’ Beliau juga memerintahkan kita untuk menunaikan shalat, menunaikan zakat, jujur, menjaga kesucian diri, dan menjaga tali silaturahmi.”

Penjelasan Heraklius atas pertanyaannya

Setelah menggali informasi tentang Nabi Muhammad, Heraklius pun memberikan penjelasan mengenai pertanyaan-pertanyaannya kepada Abu Sufyan.

Dia berkata kepada penerjemahnya: Katakan padanya: Saya bertanya kepadamu tentang silsilahnya, dan kamu menyebutkan bahwa dia adalah salah satu silsilah di antara kamu. Begitu pula dengan utusan yang diutus berdasarkan silsilah kaumnya.

Heraclius pun berkata kepada penerjemahnya, “Katakanlah kepadanya: Aku bertanya kepadamu tentang silsilahnya, kamu menjawab bahwa dia berasal dari silsilah yang terhormat. Demikianlah para Rasul, mereka diutus dari kalangan silsilah terbaik umatnya.

Aku bertanya kepadamu apakah ada di antara kamu yang mengatakan perkataan ini, dan kamu menjawab tidak, maka aku berkata, jika ada orang yang mengatakan perkataan ini sebelum dia, niscaya kamu berkata, “Seseorang mengikuti pepatah yang diucapkan sebelum dia.”

Aku bertanya kepadamu apakah ada orang di antara kalian yang pernah mengucapkan perkataan ini sebelumnya, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada orang yang pernah mengucapkan hal ini sebelumnya, tentu aku akan mengatakan bahwa dia hanyalah meniru ucapan yang pernah dikatakan sebelumnya.

Saya bertanya kepada Anda apakah salah satu ayahnya adalah seorang raja, dan Anda menjawab tidak. Anda berkata, “Jika salah satu bapaknya adalah seorang raja,” Anda berkata, “Seseorang yang mencari kerajaan bapaknya.”

Aku bertanya kepadamu apakah ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, engkau menjawab tidak. Aku berpikir, seandainya ada dari nenek moyangnya yang menjadi raja, tentu aku akan menganggapnya sebagai laki-laki yang sedang mencari kembali kerajaan nenek moyangnya.

Saya bertanya kepada Anda apakah Anda menuduhnya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dia katakan, dan Anda menjawab tidak, karena saya tahu bahwa dia tidak akan meninggalkan kebohongan kepada manusia dan berbohong kepada Tuhan. Dan aku bertanya kepadamu apakah orang-orang yang mulia mengikutinya atau orang-orang yang lemah, maka kamu menyebutkan bahwa orang-orang yang lemah mengikutinya dan mereka adalah para pengikut Rasul.

Aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya sekarang, engkau menjawab tidak. Aku pun tahu bahwa tidak mungkin seseorang yang tidak pernah berdusta kepada sesama manusia, lalu tiba-tiba berani berdusta atas nama Allah.

Aku bertanya kepadamu apakah yang mengikutinya adalah bangsawan atau orang lemah, kamu menjawab bahwa orang lemahlah yang mengikutinya. Sesungguhnya merekalah yang biasa menjadi pengikut para Rasul.

Aku bertanya kepadamu apakah itu bertambah atau berkurang, dan kamu menyebutkan bahwa itu bertambah, begitu pula masalah keimanan sampai sempurna

Saya bertanya kepada Anda apakah jumlahnya bertambah atau berkurang, Anda menjawab bertambah. Begitulah soal iman sampai sempurna.

Saya bertanya kepada Anda apakah ada orang yang mundur karena ketidakpuasan terhadap agamanya setelah dia menganutnya, dan Anda menjawab tidak. Hal yang sama berlaku pada iman ketika ia bercampur dengan hati di layarnya.

Aku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad karena benci terhadap agamanya setelah memeluknya, engkau menjawab tidak ada. Demikianlah keimanan, ketika cahayanya telah merasuk dan berakar ke dalam relung hati.

Saya bertanya kepadamu apakah dia berkhianat, dan kamu menjawab tidak, dan demikian pula para rasul tidak berkhianat

Saya bertanya apakah dia pernah selingkuh, Anda bilang tidak. Begitulah para Utusan, mereka tidak pernah berkhianat.

Kesimpulan Heraclius tentang kenabian

Dari informasi yang telah ia gali dari Abu Sufyan, Heraklius pun menyimpulkan bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Tuhan.

Aku bertanya kepadamu apa yang dia perintahkan kepadamu, dan kamu menyebutkan bahwa dia memerintahkanmu untuk menyembah Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya, dan dia melarangmu menyembah berhala, dan dia memerintahkanmu untuk berdoa, jujur, dan bersuci. Jika apa yang kamu katakan itu benar, maka dia akan memiliki tempat kedua kaki ini.

Aku bertanya kepadamu tentang apa yang ia perintahkan kepada kalian, engkau menjawab bahwa dia memerintahkan kalian untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, melarang kalian menyembah berhala, serta memerintahkan kalian untuk salat, berlaku jujur, dan menjaga kehormatan diri. Jika apa yang engkau katakan ini benar, niscaya dia akan menguasai tempat di mana kedua kakiku berpijak saat ini.

Aku tahu dia akan pergi, tapi menurutku dia bukan salah satu dari kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku ikhlas padanya, niscaya aku ingin sekali bertemu dengannya, dan andai aku bersamanya niscaya aku akan membasuh kakinya.

Aku memang sudah tahu bahwa dia akan muncul, tetapi aku tidak menyangka bahwa dia berasal dari kalangan kalian. Seandainya aku tahu bahwa aku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan bersusah payah untuk menemuinya. Jika seandainya aku berada di sisinya, tentu aku akan membasuh kedua kakinya.”

Menutupi

Demikianlah kisah pertemuan Heraclius dengan Abu Sufyan. Dari pertemuan tersebut, Heraclius mengetahui bahwa Utusan Tuhan adalah utusan Tuhan yang sebenarnya. Meski begitu, hal itu tidak serta merta membuat Heraclius memeluk Islam. Ketika dia menyerukan orang-orang Romawi untuk beriman kepada Nabi, mereka menolaknya. Heraclius pun memilih untuk bersama Romawi daripada beriman kepada Nabi.

Baca juga: Dua Perang yang Diabadikan Tuhan dalam Al-Qur’an

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslim.or.id


PakarPBN

A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.

In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.

The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.

Jasa Backlink

Download Anime Batch